Oleh: ayury | April 6, 2009

Kenangan yang terbuang

Teriak jiwa yang mati tiada arti

Manambah luka yang terjadi dalam hati

Mengejar kata demi kata ditengah jalan berduri

Hayal  tak kunjung pudar sirna dan pergi

Meratapi sampai kesebrang lautan

Singgasana tak lagi bisa di pandang

Mimpi  dan risaulah menjadi perhiasan

Di  tengah hausnya dalam perjalanan

Mngubur perlahan dalam-dalam

Tak bisa dan tetap tak terlupakan

Sampai badan trtinggal tulang belulang

terlukis jelas guratan lukisan tak kunjung hilang

Raga yang haus penuh ingin

Tak bisa memberi pelepas dahaga

Kaki terpatri rapat di tengah air yang membeku

Teriakan jiwa menggores jelas kedalam raga

Mata memandang gemerlap di kejauhan

Menitikan air dari sisi mata penuh kerinduan

Membasuh  luka , menambah siksa

Teriris dalam , kedalam relung tulang

Jiwa menangis menjerit seketika

Hentakan bathin mulai melemah rasa

Menjelang waktu itu datang

Di ungkap semua kisah yang ada

Terpancar  sinar dari seberang samudra

Terpandang singgasana yang lama di damba


Tanggapan

  1. punjangga abisssssssss,,,,,,,
    bgus…..
    pertahankan ya…
    tp ingt
    puisi adalah nanyian hai yg terindah…
    keluar kan semua na dan lepaskan gundahmu….


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.